21.8.16

Tembok

Tembok..


Saat ini, aku hanya ingin jadi tembok. Melihatmu berjam-jam lamanya, tanpa perlu khawatir gugup dan berkeringat. Memperhatikanmu dari balik telinga dia, si lawan bicaramu. Mengintip dalam celah sempit di bilur-bilur rambutnya yang jatuh terurai. Tak perluku berbicara apapun karena sungguh aku tidak ingin didengar. Aku bahkan tak ingin membuatmu repot-repot menoleh kearahku. Karena menurutku kamu terlalu luar biasa untuk memperhatikan hal-hal yang biasa saja. Aku tak perlu berbahasa. Karena dengannya aku mungkin dimengerti, atau mungkin juga tidak. Intinya, aku tidak ingin kamu akhirnya tau bagaimana cara melarangku. Dan lagipula akupun telah dengan tegas memutuskan untuk tidak diwakilkan oleh kata-kata.

Mengapa aku ingin jadi tembok? Karena aku ingin jadi mereka yang hanya dirindukan saat tiada. Mereka-mereka ini tidak pernah berebut untuk terlihat. Mereka-mereka yang bahkan mungkin tak pernah singgah walau sebentar di dalam benakmu setiap hari. Janganlah dulu sampai dirindukan, berada sejenak dalam pikiranmu saja tidak. Aku yakin sekali kamu akan kesulitan menyebutkan dengan pasti kapan terakhir kali kamu berfikir tentang sebuah “tembok”.

Tapi toh tetap aku ingin dirindukan saat tiada. Karena sesungguhnya tidak penting dianggap ada, ketika nanti tiada dari keberadaanpun tidak membuatmu merasakan suatu perbedaan.Buat apa susah payah menjadi ada, ketika tidak dirindukan saat tiada.. Mereka-mereka yang demikian adalah justru malah terasa ‘tiada’ dalam keberadaannya,bukan? Dan mereka-mereka yang dirindukan saat tiada adalah mereka-mereka yang sesungguhnya 'ada’ dalam ketiadaannya. Tak perlu tampak, hanya perlu terasa oleh mu.

Tembok itu, sesuatu yang “berada”nya mungkin tak pernah dapat perhatian darimu, tetapi saat dia (tembok) tiada, kamu pasti akan langsung tau. Kehilangan yang ditimbulkan itu selain terasa di dalam, juga muncul dalam wujudnya yang paling fisik. Dampak cuaca akan langsung terasa ke kulitmu. Dinginnya hujan, teriknya mentari siang, semuanya akan langsung bersentuhan dengan mu tanpa dihalang-halangi lagi. Bicara soal menghalang-halangi.. Sungguh aku bukan ingin menjadi tembok dalam konotasi yang buruk bagimu. Bukan dalam maksud menghalangi yang bersifat negatif, seperti menghalang-halangi perkembangan diri atau keinginan dan pencapaian cita-citamu. Aku ingin menghalangi yang bersifat positif. Menghalangi hal-hal buruk datang kepadamu sepanjang perjalanan. Karena aku tau pasti bahwa menghalangi haruslah berarti melindungi, bukan melukai..

Dan kalau satu kali saja, tembok diizinkan untuk punya keinginan, mungkin lewat kelupas cat yang memudar dan mulai lempung dibasahi gerimis. Aku cuma ingin kamu tau bahwa, aku sebenarnya tak pernah pergi.. Tetap disini, mendekap dan menjagamu meskipun dalam diam.


*Tidak selalu menyoal pengagum rahasia, tembok mungkin adalah mereka-mereka yang sesungguhnya rindu untuk berada di dalam pikiranmu. Mereka-mereka yang ber’ada’nya dalam realitas hanyalah sebagai pengabdi atas keberadaanmu. Cameo-cameo tanpa nama yang susah payah menopang berat badanmu di pundaknya, mereka yang merelakan pedar cahaya pada dirinya direnggut gelap dan menjadi bayangan, supaya kamu minimal dapat kelihatan bersinar saat berada diantara mereka.

Mereka-mereka ini, yang tidak tidur semalaman sambil menahan perih gigitan nyamuk supaya kamu dan beberapa yang lain dapat lelap tertidur dalam buaian mimpi indah. Mereka yang terdiam di sudut ruangan, menunggu piring-piring bekas makan selesai digunakan, sementara kamu dan beberapa yang lain tengah asyik menikmati santap malam bersama kolega dekat.

Mungkin juga, seorang bapak tua penjaga pintu gerbang asrama semasa kuliah dulu yang tak pernah absen menyapamu saat pergi dan pulang kampus. Atau buruh cuci-setrika di rumahmu yang datang pagi sekali dan pulang menjelang malam. Mereka yang mengurus sampah rumah tanggamu setiap hari, mengantarmu pergi dan pulang kantor, menyiapkan kopi di meja kerjamu setiap pagi, membersihkan sisa-sisa kotoran di lantai akibat lumpur di tapak sepatumu.. Mereka-mereka yang lain ini.. yang tersembunyi dari meriah perayaan hidupmu. Mereka yang hilang dalam keceriaan hidupmu. Seperti tembok, kompor masak, jam dinding, mesin pompa air atau daun pintu. mereka tak pernah sejenak pun berada dalam pikiranmu di keseharian, tapi sungguh mereka-mereka inilah yang akan kau rindukan dalam ketiadaannya..