11.10.17

Jokowi diminta bercermin



This Illustration is for sell in custom size of print, contact me here

Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Khalisah Khalid meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi berkaca sebelum menyentil Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar. Jokowi sempat menyentil Siti sebelum rapat kerja nasional daman peringatah Hari Lingkungan Hidup 2017.

Mantan Wali Kota Solo itu mengritik keras Siti yang tidak melakukan penerobosan dalam pengelolaan hutan selama menjabat. Ia menilai pembangunan hutan hanya berorientasi proyek.

"Itu sentilan buat dia juga, Jokowi punya janji 12,7 juta hektare perhutanan sosial diberikan pada rakyat dan 9 juta hektare yang akan diberikan pada petani untuk reforma agraria. Sampai sekarang ini lamban gerakannya," kata Khalisah kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, di Jakarta, Rabu (2/8).

Terkait perhutanan sosial, ia menjelaskan, Siti sudah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup Nomor 83 Tahun 2016 tentang Perhutanan Sosial. Menurut dia, Permen tersebut sudah mengarah pemberian perhutanan sosial kepada rakyat, tetapi keinginan politik dari Jokowi untuk menjalankan itu juga penting.


Khalisah khawatir dengan pernyataan Jokowi di beberapa kesempatan yang bertentangan. Seperti ketika Jokowi mengatakan kebijakan lingkungan menghambat investasi.

"Selain KLHK yang punya tupoksi, penting bagi presiden untuk mengingat janji sendiri. Pemerintah itu kan satu kesatuan, leadership presiden sangat penting," imbuhnya.

Khalisa mengritik kebijakan Jokowi saat mengeluarkan instruksi presiden ketika yang dibutuhkan adalah peraturan presiden untuk menghentikan izin korporasi dan penegakan hukum bagi korporasi yang melanggar.

Selain itu, ia menilai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang terhubungan dengan kementerian lembaga lain belum satu nafas. Salah satunya Kementerian Agraria dan Tata Ruang yang belum mau berdialog dengan warga terkait reforma agraria.

“Sebenarnya saya mau ajak kita ingatkan presiden, janji dia wujudkan keadilan sosial dengan skema yang dijalankan harus segera dilakukan. Tahun 2018 pasti sudah sibuk politik, ini tinggal sisa waktu dan kami enggak yakin bisa terwujud," kata Khalisah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar melakukan penerobosan dalam mengelola hutan Indonesia. Menurutnya, selama ini tidak ada terobosan yang dilakukan.

"Jangan kita berpikir rutinitas, monoton, tidak pernah membuat terobosan. Sekian tahun ini mohon maaf pengelolaan hutan kita berada di posisi tidak ada pembaruan," ujar Jokowi di Kompleks Manggala Wanabakti, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup 2017 serta jelang rapat kerja nasional hutan, lingkungan, dan iklim. Mantan gubernur DKI itu menilai kementerian bekerja hanya terorientasi kepada proyek-proyek semata. Sementara itu, kondisi alam dan hutan Indonesia seperti tidak diperhatikan.

Jokowi menyatakan, ia mengetahui jelas orientasi-orientasi proyek kehutanan selama ini. Namun, ia enggan mendetailkan hal itu.

"Jangan lagi ada program atau rencana yang orientasinya proyek. Hentikan itu. Kita blak-blakan saja. Kalau saya buka satu-satu ramai semua," kata Jokowi.

Di sisi lain, tidak adanya terobosan menyebabkan tingkat kemiskinan kepada masyarakat sekitar hutan Indonesia masih tinggi. Padahal, seharusnya hutan menyejahterakan masyarakat. Hal itu terbukti di Swedia dan Finlandia, pengelolaan hutan yang baik berkontribusi 78 persen dalam roda perekonomian kedua negara itu.

Sumber:CNN Indonesia

8.10.17

Soekarno menghukum mati Sahabat Karibnya, Kartosoewirjo

This Illustration is for sell in custom size of print, see my contact here


SOEKARNO dan Kartosoewirjo merupakan sahabat karib yang sama-sama berjuang melawan penjajah asing menuju Indonesia merdeka. Mereka sama-sama berguru kepada Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, dan membaca kitab-kitab marxisme. 

Hubungan persahabatan mereka sudah terjalin sejak tahun 1918. Sejauh mana keakraban keduanya? Pengagum Soekarno, Roso Daras memotret keakraban tersebut dalam bentuk percakapan, hingga membuat suasana hubungan mereka terasa hangat. 

Kisah itu bermula dari pesan Tjokroaminoto yang menyatakan, "Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan, dan bicaralah seperti orator". Pesan itu sangat diingat Soekarno, hingga setiap malam dia selalu belajar pidato. 

Setiap Soekarno belajar berpidato, suaranya yang lantang terdengar sangat mengganggu kawan-kawannya yang juga tinggal di rumah Tjokroaminoto, seperti Muso, Alimin, Kartosuwirjo, dan Darsono. Tidak jarang, mereka yang mendengar tertawa.

Bahkan, sering kali saat Soekarno sedang belajar berpidato, kawan-kawannya yang lebih senior memintanya untuk berhenti, karena merasa terganggu. Namun, Soekarno tetap melanjutkan pidatonya di depan kaca, di dalam kamarnya yang gelap. 

Salah seorang kawan Soekarno di rumah Tjokroaminoto yang tidak pernah bosan memberikan kritik atas pidato-pidatonya adalah Kartosuwirjo. Namun, tidak jarang kritik yang dilontarkan Kartosuwirjo lebih kepada ejekan. 

“Hei Karno, buat apa berpidato di depan kaca? Seperti orang gila saja,” kata Kartosuwirjo suatu kali, kepada Soekarno yang tengah belajar berpidato. Mendengar celetukan itu, Soekarno diam saja terus melanjutkan pidatonya. 

Setelah pidatonya selesai, dia baru membalas ejekan Kartosoewirjo. Kalimat pertamanya adalah penjelasan kenapa dia belajar berpidato sebagai persiapan untuk menjadi orang besar. Pada kalimat kedua, Soekarno baru membalas ejekan kawannya itu. 

"Tidak seperti kamu, sudah kurus, kecil, pendek, keriting, mana bisa jadi orang besar!” ketus Soekarno dibarengi oleh tawa keduanya. Peristiwa itu terus berulang di rumah Tjokroaminoto, hingga keduanya tumbuh dewasa. 

Impian Soekarno untuk menjadi orang besar terwujud. Meletusnya pemberontakan komunis 1926-1927, membukakan jalan baginya untuk mendirikan partai politik yang bercorak nasionalis. Sementara Kartosoewirjo terus berjuang bersama Tjokroaminoto.

Dia bahkan menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto, dan memilih Islam sebagai ideologi perjuangannya. Buku-buku marxisme yang dibacanya sama sekali tidak memengaruhinya untuk menjadi merah, dan ke kiri-kirian, seperti kebanyakan temannya. 

Sebaliknya, ideologi Islam yang diperjuangkannya justru semakin kuat. Dengan marxisme sebagai pisau analisa, pemikiran Kartosoewirjo tentang penghisapan kapitalisme semakin tajam, dan kritis. Karir politiknya pun terus melonjak. 

Perpecahan mulai timbul setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945. Terjadi tarik menarik kekuatan arah republik, antara yang menghendaki negara Uni Belanda, negara komunis, dan negara Islam.

Soekarno yang menyerap memiliki banyak ideologi, mulai dari marxis, Alquran dan Islam, serta kitab lainnya tidak ingin Indonesia menjadi negara Uni Belanda, komunis, dan berazaskan Islam. Sebaliknya, dia menawarkan asaz Pancasila. 

Menurutnya, Pancasila adalah ideologi yang tumbuh dari bumi pertiwi, sesuai dengan pergulatan batin, intelektual, dan budaya luhur bangsa. Usulan Pancasila ini kemudian disampaikan Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945. 

Perlawanan hebat pertama-tama datang dari pihak komunis. Tahun 1948, kelompok Muso memproklamirkan Negara Madiun sebagai poros Soviet. Peristiwa yang dikenal dengan Pemberontakan Madiun ini dengan mudah ditumpas Pemerintah Republik. 

Pemberontakan hebat selanjutnya datang dari Kartosoewirjo, saat diproklamasikannya Negara Islam Indonesia (NII), di Tasikmalaya, pada 7 Agustus 1949. Pemberontakan ini bahkan sanggup menyebar ke Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

Pemberontakan Kartosoewirjo berhasil ditumpas dengan tertangkapnya dia oleh pasukan TNI di Gunung Geber, Jawa Barat, pada 4 Juni 1962. Dia lalu dijatuhi hukuman mati. Yang menyedihkan, surat hukuman mati itu ditandatangani oleh Soekarno. 

Sempat terjadi pergolakan hebat dalam batin Soekarno, saat harus membunuh sahabat karibnya sendiri, saudara seperguruan, dan teman seperjuangannya Kartosoewirjo. Tanpa tanda tangan Soekarno, tentu Kartowoewirjo tidak akan ditembak mati.

Proses eksekusi terhadap Kartosoewirjo sempat tertunda hingga tiga bulan. Sebabnya, Soekarno selalu menyingkirkan berkas kertas vonis mati atas diri Kartosoewirjo, manakala berkas itu berada di atas meja kerjanya. 

Peristiwa ini sempat membuat Soekarno frustasi, hingga akhirnya dia lempar berkas vonis tersebut ke udara dan bercecer di lantai ruang kerjanya. Saat itu, putrinya Megawati Soekarnoputri lah yang menyadarkan sang ayah untuk kembali. 

Megawati menggambarkan luhurnya hakikat pertemanan sejati, namun dia mengingatkan Soekarno agar menepati dharmanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, serta tidak mencampur-adukkan antara hakikat persahabatan dengan tugasnya. 

Akhirnya, pada September 1962, setelah lama termenung di meja kerjanya, dia menggoreskan tanda tangannya di atas berkas vonis Kartosoewirjo. Seketika, dia ingat hari-hari bersama Kartosoewirjo di medan perang. 

Masih terdengar canda dan tawa, serta diskusi-diskusi politik, agama, kebangsaan, dan apa saja yang begitu hangat dengan sahabatnya itu. Dia lalu mengambil selembar foto Kartosoewirjo, dan menatapnya lama-lama, sambil berlinangan air mata.

Saat melihat foto sahabatnya itu, Soekarno tersenyum dan berkata, “Sorot matanya masih tetap. Sorot matanya masih sama. Sorot matanya masih menyinarkan sorot mata seorang pejuang.”

Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo, pada 5 September 1962, di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.